Mufradat; Teori, makna dan cakupanya

r-300x168

MUFRADAT

TEORI, MAKNA DAN CAKUPANNYA

Oleh: Alis Asikin

 Pendahuluan

 Penguasaaan bahasa asing, seperti bahasa Arab bagi suatu bangsa terutama yang berpenduduk mayoritas beragama islam, misalnya Indonesia merupakan sebuah kebutuhan yang sangat urgen dan tidak bisa ditunda. Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan transfer ilmu pengetahuan yang bersumber dari dua pusaka suci, al-Quran dan al-Hadits al-Nabawiy. Di samping hal itu juga sekaligus untuk pengembangan aspek sosial budaya antar masyarakat dunia, terutama pengguna bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi.

Bahasa sebagaimana maknanya yang antara lain dimaknai sebagai alat untuk mengungkapkan segala perasaan dan pikiran manusia. Bahasa juga dipahami sebagai sarana komunikasi atau penghubung seseorang dengan  yang lain. Dengan melalui komunikasi tersebut seseorang bisa memahami apa yang orang lain inginkan dan apa yang ia butuhkan.

Sebagai pemula dalam kiprahnya belajar bahasa asing, maka hal pertama yang muncul di benak adalah deretan kata-kata asing, yang harus dipahami dan dikuasai jika ingin mennguasai pesan dalam bahasa tersebut. Maka tidak berlebihan jika sebagian beranggapan bahwa seseorang akan dapat berbicara atau memahami bahasa lawan bicara dalam bahasa asing adalah dengan menguasai kata-kata yang  ada di dalam kamus bahasa terebut.

Mufradat (kosa kata) merupakan unsur penting dalam suatu bahasa di samping unsur-unsur lainnya seperti sistem bunyi ( النظام الصوتي  ), sistem morfologi (  النظام الصرفي  ), sistem syntax ( النظام النحوي   ), dan sistem semantic (  النظام الدلالي  ). Oleh Karena  itu biasanya seseorang yang ingin belajar bahasa asing  langkah pertama yang dilakukan adalah menguasai kosa kata asing tersebut, sebelum berusaha untuk mengetahui aspek lain dari bahasa tersebut. Maka tidak mengherankanj ika Rusydi Ahmad Thu’aimah memandang kosa kata sebagai sebuah kebutuhan dasar dalam pengajaran bahasa kedua dan bahkan merupakan suatu syarat untuk menguasai bahasa tersebut dengan baik ( مطلب أساسي  من مطالب تعليم اللغة الثانية و شرط من شروط إجادتها   )[1] Dengan demikian, seseorang tidak dapat menguasai suatu bahasa sebelum ia menguasai kosa kata bahasa tersebut.

 

Pengertian Mufradat ( Kosa kata )

Mufradat mempunyai beberapa definisi yang berbeda ungkapannya.

Menurut Kridalaksana, kosa kata memiliki beberapa pengertian yaitu :

1)Komponen bahasa yang menurut semua informasi tentang makna dan pemikiran kata, 2)Kekayaan kata yang dmiliki seorang pembicara atau penulis suatau bahasa, dan 3) Daftar kata yang disusun seperti kamus tetapi dengan penjelasan singkat yang praktis.[2]

Sedangkan menurut The American Heritage Dictionary of English Language, kosa kata ialah :

1)All the words of languages, 2) The sum of words used by, understood by, or at the command of particular person group, 3)A list of words and often phrases , usually arranged alphabetically and defined or translated; a lexicon or glossary , 4) A supply of expressive means; a repertoire of communication : a dancer’s vocabulary of movement.[3]

Sementara itu, Heubener menyatakan bahwa permasalahan pokok bahasa pada dasarnya terdiri dari sejumlah kata dan ekspresi, serta ketentuan yang mengatur hal kalimat pada pola berbicara, yaitu kosa kata dan tata bahasa.[4]

Kosa kata sebagaimana dikatakan oleh F. de Saussure (terj. Rahayu S. Dayat ) terdiri dari dua macam istilah yaitu Langue dan Parole. Langue merupakan kosa kata yang direkam scara pasif, yaitu kekayaan kata yang dpahami oleh seseorang tetapi tidak pernah atau jarang dipakai. Sedangkan parole adalah suatu tindak individual dari kemauan atau kecerdasan untuk mengungkapkan gagasan pribadinya atau kekayaan kata yang biasa dipakai oleh seseorang. [5]

Pertanyaan : Bagaimana seseorang dianggap mengetahui kata yang kemudian menjadi bagian hidupnya yang tidak terpisahkan ? Menurut Fromkin dan Rodman, mengetahui suatu kata berarti mengetahui lafal dan maknanya.[6]  Sebagaimana diketahui bahwa bahasa merupakan suatu sistem yang menghubungkan bunyi  atau lafal dengan makna. Lafal dan makna merupakan bagian yang penting dari suatu bahasa. Jika seseorang mengetahui bahasa, maka ia bisa memahami makna dari bunyi yang dihasilkan orang lain, dan dapat pula menghasilkan  bunyi atau lafal yang mengandung makna tertentu. Sebaliknya apabila orang tersebut tidak mengetahui bahasa, maka suara yang didengar dari orang lain tidak memberikan baginya makna apa-apa.[7] Dengan demikian bias disimpulkan bahwa pemahaman pesan bahasa berbanding lurus dengan pengetahuan dan penguasaan pelafalan dan makna suatu kata bahasa.

Dari beberapa definisi di atas maka dapat dipahami bahwa setiap kata memiliki makna tertentu, bahkan dalam konteks yang berbeda terindikasi makna lebih dari satu. Sebagaimana contoh sederhana kita jumpai dalam bahasa Indonesia pada ungkapan dua uangkapan dalam konteks yang berbeda, yaitu 1) Dia bisa melakukan hal itu , dan 2) Bisa ular itu sangat mematikan. Dari dua ungkapan tersebut ditemukan kata yang sama yaitu bisa, namun pesan makna yang tercakup dalam kata tersebut sangat berbeda. Demikian pula dengan kata-kata lain dalam setiap bahasa, sehingga kata-kata tersebut digunakan sesuai dengan maknanya yang benar, bukan hanya sekedar tahu bagaimana mengucapkannya secara fasih, atau sekedar tahu asal-usul (isytiqaq) kata-kata tersebut dalam ilm al-sharf,atau sekadar dapat menyusun kata-kata tersebut dalam kalimat. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rusydi Ahmad Thu’aimah sebagai berikut.[8]

ليست القضية في تعليم المفردات أن يتعلم الطالب  نطق حروفها فحسب, أو فهم معناها مستقلة فقط أو معرفة طريقة الاشتقاق منها, أو مجرد وصفها في تركيب لغوي صحيح….إن معيلر الكفاءة في تعليم المفردات  هو أن يكون الطالب قادرا على  هذا كله بالإضافة إلى شيء أخر لا يقل عن هذا كله أهميته, ألا وهو قدرته على أن يستخدم الكلمة المناسبة في المكان المناسب

Dalam pengajaran kosa kata seorang sisiwa tidak hanya cukup mempelajari cara mengucapkan huruf-hurufnya, ayau mengetahui artimya secara lepas, atau mengetahui akar katanya, atau sekedar memberikan contohn sususnan yang benar…..sesunguhnya standar kemampuan dalam pengajaran kosa kata ialah hendaknya siswa mampu atas itu semua, di samping itu juga harus menguasai bagaimana mengunakan kosa kata pada tempat yang sesuai.

Dalam hal ini tidak jarang pelajar kita hanya sekedar tahu makna suatu kata tertentu, bahkan menguasai ilmu al-Sharf (morfologi) dan ilmu al-Nahw (sintaksis) serta mampu membaca dan memahami kitab gundul, namun pada saat yang bersamaan mereka tidak tahu bagaimana mengunakan kosa kata tersebut dalam kalimat yang benar sesuai dengan dzauq ( rasa) Arab yang sebenarnya. Oleh karena itu pendapat itu sangat tepat dan harus menjadi perhatian semua pihak yang terjun dalam pengajarna bahasa Arab, di semua tingkatan yang ada.

 

Bahasa merupakan  gudang perbendaharaan yang perlu diuangkap isinya. Oleh karena itu telaah para ahli bahasa terhadap hubungan antara kata dan maknanya meliputi beberapa aspek, antara lain etimologi, antonym,sinonim, makna denotatif dan konotatif, perubahan makna, dan pengembangan kata. Konsep-konsep ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Etimologi; Bahasa merupakan fenomena sosial yang sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi yang dialami manusia sepanjang hidupnya. Karena itu manusia tidak akan mampu untuk menghentikan atau membuatnya konstan pada suatu kondisi, karena penuturnyapun  tidak dapat diperlakukan demikian. Maka perkembangan suatu bahasapun juga akan sangat dipengaurhi oleh bahasa lain, seperti halnya yang dialami oleh bahasa Arab. Shihabuddin mengutip pendapatnya Raphael Nakhlah mengatakan bahwa bahasa Arab itu dipengaruhi oleh bahasa-bahas Eropa, Asia dan Afrika sehingga terkumpul 2.515 kosa kata serapan.[9] Al-quran merupakan firman Allah yang diturunkan dengan bahasa Arab. Dengan demikian, kata serapan yang ada di dalam Al-Quran dipandang sebagai bahasa Arab. Kenyataan ini juga banyak ditegaskan oleh para ulama ahli tafsir.

Sinonim;  Konsep ini masih selalu dipermasalahkan oleh dua kubu yang menolak dan mendukung keberadaannya. Pengertian sinonim ini banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya oleh Fahruddin. Dia mengemukakan bahwa sinonim adalah beberapa kata yang menunjukkan satu hal. Gejala ini muncul karena variasi dan keluasan wilayah pemakaian kata serta bertujuan untuk pencapaian tujuan. Hal ini misalnya terjadi pada kata العطش yang memiliki banyak sinonim, diantaranya الظمأ dan الحسام. Tiga istilah terebut seringkali diartikan sama, sepadan, meskipun dalam kenyataannya banyak digunakan untuk mengemukakan kondisi yang berbeda.[10]

Kenyataan makna dalam bahasa Arab tidak terbatas pada kata, tetapi termasuk kekayaan makna huruf. Sebab huruf mempunyai banyak makna, maksud dan fungsi. Sebagai misal huruf lam, memiliki banyak makna, yaitu : 1). Menguatkan pernyataan, seperti : لقد كفر الذين قالوا إن الله هو المسيح بن مريم     2). Menyatakan milik, seperti : لكم دينكم ولي دين ,  لنا أعمالنا و لكم أعمالكم  , 3).menyatakan sebab, seperti : صلي كل يوم لأعبد الله تعالىأ, 4) menyatakan perintah , seperti : ياأيها الذين أمنوا اتقوالله ولتنظر نفس ما قدمت لغد  , 5) Sebagai jawaban, seperti :   لولا علي لهلك عمر [11], dan lain sebagainya.

Selanjutnya pertanyaan yang harus diketahui jawabannya oleh pemateri bahasa Arab adalah berapa banyak mufradat yang harus dikuasai oleh para pelajar pada masing-masing tingkatan dalam pembelajaran bahasa Arab ini ? Menurut  Rusydi Ahmad Thu’aimah , seorang pelajar dipandang mampu untuk menguasai kosa kata asing sebanyak 750-1000 kosa kata pada tingkat ibtidaiyyah (dasar), 1000-1500 kosa kata pada tingkat mutawassithah (menengah pertama), dan 1500-2000 pada tingkat mutaqaddimah (menengah atas ).[12]

Penulis kitab Musykilat Ta’lim al-Lughah al-Arabiyyah Li Ghair al-‘Arab, Ali al-Hadidi berbeda pandangan dengan Thu’aimah. Dia membagi tingkatan pembelajaran menjadi 4 periode yang masing-masing tingkatan harus menguasai sebanyak 1000 kosa kata sehingga jumlah seluruhnya adalah 4000 kosa kata yang dibutuhkan . Empat tingkatan tersebut adalah : 1) marhalah li al-mubtadiin (elementary), 2) marhalah mutawassithah ( intermediate), 3) marhalah mutaqaddimah ( advanve), dan 4) marhalah nihaiyyah ( tingkat akhir ).[13]

Tehnik Pengajaran  Mufradat

Agar makna mufradat yang diajarkan dapat dipahami dengan jelas oleh siswa, maka perlu dilakukan dengan teknik berikut ini :

  1. Menjelaskan makna mufradat melalui siyaq al-lafdhi (konteks kalimat) atau situasi pada saat kata tersebut diucapkan. Sebagai contoh adalah ungkapan salam. Ketika guru mengucapkan salam pada saat masuk kelas, maka salam itu bermakna salam pertemuan. Namun ketika guru mengucapkan salam ketika akan meninggalkan kelas, maka itu bermakna sebagai salam perpisahan. Bedakan dua contoh berikut ini :
    1. ذهب المدير إلى مكتبه صباحا
    2.   وضع حسين كتابه على مكتبه

Kata “ maktab” yang pertama  bermakna kantor, sedangkan kata “maktab” pada kalimat yang kedua bermakna meja (untuk menulis).

Demikanlah konteks kalimat menjadi pembeda di antara makna masing-masing kata atau mufradat tersebut.

  1. Menjelaskan isytiqaq al-Kalimah atau akar kata.

Kita bisa menjelaskan suatu mufradat dengan cara menyebutkan kata lain yang memiliki dasar yang sama yang sekiranya artinya sudah diketahui oleh siswa. Sebagai contoh kata الناصر, dari akar kata نصر – ينصر yang berarti menolong- sedang menolong. Kata al-Nashir adalah bentuk ism failnya, berarti orang yang menolong (penolong)

  1. Menjelaskan makna mufradat melalui tamtsil (adegan)

Sambil memperagakan berjalan, guru mengucapkan kata المشي, sambil berlari guru mengucapkan الفرار , sambil membungkukkan badan guru berkata الركوع, dsb.

  1. Menyebutkan benda dalam bahasa Arab, dengan cara menyentuh benda tersebut.

Sambil mengangkat buku guru berkata الكتاب, sambil mengangkan pena guru berkata -القلم, sambil mengangkat buku tulis guru mengucapkan الكراسة. Dengan deةikian siswa tanpa sengaja mulai bisa membedakan dua benda yang berbeda, yaitu buku dan buku tulis sekaligus.

  1. Menjelaskan dengan menggunakan gambar

Peraga  berupa gambar mati, slide atau gambar lewat LCD akan membantu untuk memperkaya siswa dalam menghafal mufradat. Hal ini ditempuh sebagai ganti untuk menghadirkan benda yang sesungguhnya di dalam kelas.

  1. f.        Al-Tasalsul, yaitu menjelaskan makna mufradat dengan cara mengurutkan. Tentu saja hal ini hanya bias diterapkan untuk kosa kata-kosa kata yang berurutan atau berderet, Misalnya kata khamsah, yang sebelumnya bisa didahului oleh wahid, itsnain,tsalatsah, dan arba’ah.
  2. Al-Mufradat wa al-Mudladdat, yaitu persamaan dan lawan kata.

Misalnya kata  نحيف( kurus ) dengan kata هزيل  lawan kata dari سمين (gemuk).

النساء = النسوة  ( Wanita ), lawan الرجال ( laki-laki )

على       = فوق  ( di atas ) , lawan تحت ( di bawah )

جلس = قعد ( duduk), lawan dari قام  ( berdiri )

  1. Al-Tarjamah, yang merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menjelaskan makna mufradat yang memiliki makna abstrak, yang tidak mungkin dihadirkan atau digambar dalam wuud fisik. Teknik ini sebaiknya dijadikan sebagai cara yang paling akhir dalam menjelaskan makna kata. Sebab, terjemah merupakan teknik yang kurang efektif bila pengajaran bahasa tersebut ditujukan untuk ketrampilan berbicara. Sebagai contoh ketika guru menjelaskan makna kata النصر ( pertolongan ), الرشوة ( suap ).

Di samping hal tersebut di atas, ada beberapa hal yang penting bagi guru bahasa dalam mengajarkan mufradat;

1.Beberapa makna baru

Sebelumnya telah disebutkan pentingnya penjelasan makna mufradat melalui penggunaan yang sesuai dengan konteks yang benar agar siswa dapat menggunakannya dengan tepat. Selain itu pula perlu dijelaskan penggunaan huruf Jarr ( uslub ) yang berpotensi merubah dari suatu makna umum menjadi makna yang lebih tepat dengan tuntutan  siyaq al-kalam. Seperti kata بحث  ( yang secara umum biasa diartikan membahas ). Kebanyakan pengguna kata ini akan mengikutinya dengan huruf عن untuk menyatakan kata “ membahas tentang “. Padahal kata bahatsa  jika diikuti oleh , maka akan berubah makna menjadi “mencari”. Dengan demikian pemilihan preposisi menurut ukuran Dzauq (rasa bahasa ) Indonesia tidak selamanya benar. Contoh kalimat : بحث محمد معاني الكلمات الغريبة في المكتبة   . Cara yang paling tepat untuk membedakannya adalah dengan sering membuka kamus yang lebih lengkap.

2.Rumpun makna

Sebaiknya kata baru disampaikan dalam satu kesatuan makna yang saling berkaitan. Sebagai contoh kata-kata yang berkaitan dengan sekolah atau kata-kata yang berkaitan dengan laboratorium disampaikan dalam konteks yang terkait.

3.Kata yang dipahami dan digunakan

Pada umumnya semua guru telah mengetahui ribuan mufradat, tetapi tidak semua mufradarat tersebut  dikuasai dengan baik.  Dalam pembelajaran bahasa ada istilah pengetahuan positif dan pengetahuan negatif. Pengetahuan negatif berarti guru tahu arti kata tersebut tapi tidak dapat menggunakannya dengan baik, sedangkan pengetahuan positif sebaliknya.[14] Selanjutnya dalam pengajaran  mufradat , guru harus dapat membedakan teknik pengajaran antara mufradat sekedar untuk diketahui oleh siswa dengan mufradat untuk dipahami dan digunakan. Untuk mufradat  yang sering digunakan percakapan sehari-hari harus dilakukan dengan memberikan latihan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Kesimpulan

Dari  uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengajaran mufradat ternyata tidak sederhana, karena itu berarti mengajarkan hakekat bahasa itu sendri. Dan tujuan hanya bisa dicapai oleh seorang guru yang professional , yang tolak ukurnya antara lain penguasaannya terhadap segala aspek yang berkaitan dengan bahasa tresebut, termasuk teknik mengajarkannya secara kontekstual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Amir, Fakhruddin, Thuruq Tadris al-Khashshah bi al-Lughah al-‘Arabiyyah wa al-Tarbiyah al-Islamiyyah, Kairo : ‘Alam al-Kutub, cet. 2, 2000

Dictionary Com, The American Heritage Dictionary of The English Language, U.S.A: Mifflin, 2000

Ferdinan de Saussure, Pengantar Linguistik Umum, terj. Rahayu S. Dayat, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998

Fronkim, Victoria dan Rodman,Robert, An Introduction to Language, New York: Holt Rinehart and Winstone Inc.1974

Al-Hadidi, Ali, Musykilat Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah li Ghair al-‘Arab, Kairo: Dar al-Kitab al-‘Arabi, tt

Isma’il Shini, Mahmud, Mursyid al-Mu’allim fi Tadris al-Lughah al-‘Arabiyyah li Ghair al-Nathiqin biha, Maktab al-‘Arabi li Duwal al-Khalij

Kridalaksana, Harimurti, Kamus Linguistik, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999

Shihabuddin, Teori dan Praktik Penerjemahan Arab-Indonesia, bandung: UPI, 2001

Theodore Heubener, How to Teach Foreign Language Effectually, New York: New York University Press, 1959

Thu’aimah Rusydi Ahmad, Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah li Ghair al-Nathiqin biha: Manahijuhu wa Asalibuhu, al-Rabath: 1989

 

 

 

 



[1] Rusydi Ahmad Thu’aimah, Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah li Ghair al-Nathiqin Biha., (al-Rabath : 1989), h. 194

[2] Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik (Jakarta : Gramedia Pustaka utama, 1999), h. 114-115

[3] Dictionary Com, The American Heritage Dictionary of The English Language ( U.S.A : Mifflin, 2000), h.1

[4] Theodore Heubener, How to Teach Foreign Language Effectively ( New York : New York University Press 1959), h.80

[5] Ferdinand de Saussure,Pengantar Linguistik Umum, terj. Rahayu S.Dayat ( Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998 )., h.80

[6] Victoria Fromkim dan Robert Rodman, An Introduction to Language, (New York : Holt inehart and Winstone Inc., 1974), h. 111

[7] Victoria Fromkim dan Rodman,Ibid., h.2

[8] Thu’aimah, Ta’lim al-Lughah...,h.  194

[9] Shihabuddin, Teori dan Praktik Penerjemahan Arab-Indonesia, (Bandung: UPI, 2001). h.24

[10] Tiga kata tersebut mempunyai bobot yang meningkat dari taraf biasa menjadi kondisi yang sangat genting, yaitu kondisi haus yang sangat mencekik, luar biasa sehingga identik dengan datangnya kematian. Dalam bahasa ini biasanya digunakan ungkapan tambahan kata lebih, sangat, dan bukan  dengan ungkapan yang berbeda-beda.

[11] ]Dalam sejarah diriwayatkan bahwa kalimat ini pernah diucapkan oleh khalifah rasul-II, yaitu Umar ibn Khaththab lebih dari 40 kali dalam masalah-maalah yang sangat pelik dan berat.

[12] Thu’aimah, Ta’lim al- Lughah…, h.196

[13] Ali al-Hadidi, Musykilat Ta’lim al-Lugah al-‘Arabiyyah li Ghair al-‘Arab (Kairo : Dar al-Kitab al-‘Arabi, tt), h. 124

[14] Isma’il Mahmud, Mursyid al-Mu’allim fi Tadris al-Lughah al-‘Arabiyyah li Ghair al-Nathiqin biha, h.89

Print Friendly

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>